Jumat, 20 April 2018


Keprihatinan Persoalan Pembelajaran Kimia
Persoalan pembelajaran kimia yang sering saya temui dan bahkan sudah menjadi pengalaman saya sendiri ketika duduk dibangku SMA yaitu banyak guru kimia yang masih belum paham mengenai apa yang sedang ia jelaskan. Sehingga ketika ditanya diakhir pembelajaran guru tidak dapat menjawab dan bahkan ada guru yang marah jika ada yang bertanya. Banyak juga ditemui guru kimia yang pintar kimia tetapi tidak bisa menjelaskan kepada peserta didiknya. Pada saat kegiatan belajar mengajar kimia banyak keluhan yang dialami oleh peserta didik. Keluhan itu sendiri berasal dari guru yang seringkali menjelaskan salah konsep dan ketika disanggah malah menjadi marah.  Keluhan-keluhan tersebut menjadi kesulitan belajar bagi peserta didik.
Materi Pelajaran Kimia di SMA banyak berisi konsep-konsep yang cukup sulit untuk difahami peserta didik, karena menyangkut reaksi-reaksi kimia dan hitungan-hitungan serta menyangkut konsep-konsep yang bersifat abstrak dan dianggap oleh siswa merupakan materi yang relatif baru dan belum pernah diperolehnya ketika di SMP. Dalam proses pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat kurang menarik, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada pelajaran kimia, sehingga suasana kelas cenderung pasif, sedikit sekali peserta didik yang bertanya pada guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Dalam pembelajaran seperti ini mereka akan merasa seolah-olah dipaksa untuk belajar sehingga jiwanya tertekan. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan, sikap masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa dalam pembelajaran menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaktercapaian tujuan pembelajaran kimia.
Kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik ketika belajar kimia seringkali yang menjadi sumber utamanya adalah guru. model pembelajaran yang sering diterapkan guru seringkali dengan metode ceramah dan ceramah lagi. Bisa kita bayangkan bagaimana siswa mendengarkan ceramah guru yang gurunya sendiri sedang dalam kebingungan. Hal ini juga yang membuat banyak peserta didik yang membenci pelajaran kimia. Membenci pelajaran kimia dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan benci kimia karena guru kimia galak, pemarah dan tidak bisa menjelaskan. Ada pula alasan pembelajaran kimia itu sangat rumit, banyak rumusnya dan  siswa tidak tau tujuan dari belajar kimia itu apa.
Menurut Arifin, dalam Rumansyah dan Irhasyuna (2001) kesulitan siswa dalam mempelajari ilmu kimia dapat bersumber dari   :
1.      Kesulitan dalam memahami istilah
Kesulitan ini timbul karena siswa hanya menghapal istilah dan tidak memahami maksud dari istilah yang sering dipergunakan dalam pembelajaran kimia.
2.      Kesulitan dalam memahami konsep kimia
Kebanyakan kosep-konsep dalam ilmu kimia maupun materi kimia secara keseluruhan merupakan konsep atau materi yang bersifat abstrak dan kompleks, sehingga siswa dituntut untuk memahami konsep tersebut secara benar dan mendalam.
3.      Kesulitan angka
Dalam mempelajari kimia tidak lepas dari perhitungan matematis, dimana siswa dituntut trampil dalam menerapkan rumus atau operasi matematika. Namun sering dijumpai siswa tidak memahami rumus tersebut.
Belajar tidak senantiasa berhasil, akan tetapi sering kali ada hal-hal yang bisa menghambat kemajuan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar dikarenakan metode mengajar yang tidak sesuai, penekanan kurikulum yang tidak cocok atau bahkan pembelajaran yang kompleks.
Keprihatinan persoalan pembelajaran kimia tidak hanya itu saja. Seperti yang kita ketahui pelajaran kimia memiliki banyak konsep abstrak yang harus dipahami dan tingkat kesulitan pelajaran kimia selalu meningkat.Tetapi pelajaran kimia disekolah  waktunya sangat dibatasi. Padahal jika kita tinjau dari konsep-konsep kimia. Waktu/ jam pertemuan kimia harusnya ditambah lagi. Kimia bukan hanya sekedar menghafal, memahami atau menghitung, tetapi banyak penalaran dan ilustrasi-ilustrasi yang  diterapkan sambil belajar kimia. Selain masalah waktu yang dibatasi, keprihatinan persoalan pembelajaran kimia juga trjadi pada penerapan kurikulum. Kurikulum yang selalu berubah-ubah malah meningkatkan mis konsepsi pemahaman kimia. Kurikulum KTSP menuntut peran guru yang menjadi  sumber informasi dan pengetahuan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Banyak kekurangan dan kelebihan dari  KTSP yang diterapkan pada pembelajaran kimia. Ketika guru dituntut menjadi pusat informasi, guru beranggapan bahwa model ceramah adalah model yang paling tepat untuk diterapkan. Padahal sebaiknya guru juga harus menugaskan peserta didik untuk menggali informasi yang nantinya bisa dibandingkan dengan penjelasan yang guru sampaikan. Jika penerapan KTSP memiliki banyak kekurangan dan kelebihan, ternyata ketika KURTILAS diterapkan juga masih banyak sekali kekurangan yang menjadi kesulitan belajar bagi siswa.
Lingkungan pembelajaran kimia sebenarnya dapat membantu pembelajaran kimia. Tetapi kita ketahui masih banyak sekali guru yang belum mampu menerapkan hal tersebut. Seandainya jika guru mampu mengajar sambil mengarahkan kepada ilustrasi-ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari pastinya peserta didik akan lebih mudahmenerima pelajaran kimia dan menjadi tahu apa yang sebenarnya menjadi fungsi belajar kimia. Lingkungan pembelajaran kimia sudah mendukung tetapi guru belum mampu untuk membawa siswa kedalam ilustrasi yang nantinya memancing minat peserta didik untuk belajar kimia.
Keprihatinan lainnya dapat pula dilihat dari penilaian pembelajaran kimia. Karena banyak peserta didik yang mengalami kesulitan kimia sehingga banyak guru kimia yang terpaksa mengada ada nilai agar peserta didik dapat mencapai KKM. Kita tahu, ketika dilakukan ujian ada seperempat siswa yang tidak lulus pasti yang menjadi pembicaraan utama adalah peserta didik tersebut tidak mampu/ lambat dalam menerima pembelajaran, ada pula yang mengatakan IQ peserta ddik tersebut IQ jongkok. Namun ketika semua peserta didik tidak dapat menjawab maka sudah dapat dipastikan hal ini terjadi karena kesalahan dari guru tersebut. Cara emnagajar yang diterapkan guru malah mempersulit siswa atau guru tersebut menciptakan banyak mis konsepsi. Hal ini jelas akan menjadi masalah besar bagi guru, peserta didik dan pengawas/ kepala seekolah. Pastinya semua harus diselidiki satu persatu hingga kesalahan yang sebenarnya terjadi adalah kesalahan dari guru itu sendiri.
Keprihatinan persoalan pembelajaran kimia apabila ditinjau dari peserta didik dan perbuatannya yaitu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh persta didik mengakibatkan peserta didik menjadi malas untuk belajar kimia. Bahkan banyak peserta didik yang jantungan ketika pelajaran kimia akan dimulai. Hal ini terjadi karena guru kimia yang terkenal dengan muka sangar yang jika ditanya marah. Yang tadinya siswa bingung, menjadi semakin bingung setelah belajar kimia. Pengalaman saya sendiri. Guru kimia kami sangat galak dan jika ditanya malah memarahi kami, akhirnya setiap kali masuk kelas kimia banyak teman-teman yang berdoa agar gurunya sakit, gurunya tidak datang bahkan banyak  yang  berdoa agar kecelakaan dijalan. Kesulitan dan kekeliruan yang terjadi mengakibatkan banyak siswa yang sangat merasa tersiksa dan menderita belajar kimia. Bahkan ada peserta didik yang memilih jurusan IPS demi menghindari pelajaran kimia.
            Sangat banyak sekali yang menjadi keprihatinan persoalan pembelajaran kimia. Tetapi yang menjadi faktor utama adalah Guru. Upaya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi persoalan pembelajaran kimia yaitu sebagai berikut:
1.      Diadakan Seleksi dan Pendidikan Profesi Guru
Pemerintah harus mengadakan seleksi atau mengadakan pendidikan profesi guru yang mana akan berguna untuk menciptakan guru yang benar-benar mantap untuk mengajar saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Apabila diadakan seleksi guru, maka kemungkinan terjadi mis konsepsi semakin kecil karena guru tersebut sudah melewati tahap seleksi yang benar-benar matang. Dengan diadakan seleksi dan pelatihan-pelatihan untuk guru maka tidak akan ada lagi guru yang dikatakan tidak mampu menjelaskan dikelas, tidak ada lagi guru yang marah jika ditanya dan kekeliruan yang selama ini dialami siswa sehingga menjadi kesulitan berkurang.
2.      Memperhatikan Sumber Belajar
Pendidik berperan lebih sebagai perancang, fasilisator, pengelola, tutor dan mentor. Peranan buku teks pelajaran sebagai sumber belajar berkaitan dengan usaha kecakapan belajar agar mampu belajar sepanjang hayat, maka dianggap perlu menyusun buku teks pelajaran yang baik.
Pada saat ini, isi dalam buku teks pembelajaran kimia msih sering ditemukan konsep sehingga jika peserta didik belajar tanpa bimbingan dapat menglami kesalahan konsep. Dengan demikian, dalam pembalajar kimia sebaiknya menggunakan lebih dari satu sumber belajar atau misalnya menggunakan buku teks berbasis aneka sumber.
3.      Penilaian Hasil  Belajar Real
Artinya guru menilai dengan jujur hasil belajar, tanpa melebihi nilai yang dicapai siswa untuk mencapai KKM. Guru harus terbuka dalam menilai dan jujur, tujuannya agar guru dan peserta didik menjadi tahu sejauh mana pemahaman yang telah mereka capai. Kesalahan atau kegagalan bukan hal yang harus disembunyikan, tetapi hal yang harus diperbiaki.
4.      Memilih metode dan model pembelajaran yang tepat.
Guru harus memperhatikan metode dan model yang cocok untuk diterapkan dalam materi pelajaran tersebut. Kesalahan yang selama ini terjadi karena guru hanya mengajar dengan cara ceramah yang kebenarannya belum pasti dan mengakibatkan peserta didik bosan. Sebelum mengajar guru harus menyiapkan RPP dan LKS yang akan diberikan kepada peserta didik. Pastinya ketika membuat RPP guru harus terlebih dahulu menentukan metode dan model yang digunakan untuk materi  pelajaran tersebut. Misalnya materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, pada materi ini sebaikya dilakukan metode eksperimen dan diskusi kelompok sedangkan untuk modelnya sendiri sebaiknya diterapkan model Discovery Lerning dengan tujuan peserta didik memecahkan masalah sendiri dengan eksperimen/praktikum yang akan dilanjutkan dengan diskusi. Dengan melakukan peserta didik dapat menemukan, dengan melakukan peserta didik juga akan lebih mengerti apa yang sudah ia temukan. Oleh karena itu, untuk memperbaiki persoalan pembelajaran kimia dapat dilakukan dengan memilih metode dan model pembelajaran yang akan diterapkan.
5.      Mengevaluasi Kurikulum
Kerangka dasar dan struktur kurikulum serta kurikulum tingkat satuan pendidikan baik hirarki materi pelajaran maupun tatanan materi antar mata pelajaran harus terus mengalami evaluasi dan perubahan untuk menghindari miskonsepsi yang berasal dari kurikulum, dengan kata lain kurikulum harus dinamis karena kurikulum yang statis tidak mampu menata hirarki pendidikan kimia di SMP maupun di SMA.
6.      Peserta didik harus diberi tantangan
Dengan memberikan ilustrasi dan menjelaskan hubungan pelajaran kimia dengan kehidupan sehari-hari merupakan satu usaha memancing rasa ingin tahu peserta didik. Pada usia meranjak dewasa biasanya anak ingin mengetahui segala hal. Jadi kita harus memanfaatkan keadaan ini untuk menerapkan metode discovery learning yang menuntut peserta didik menemukan/ memecahkan masalahnya sendiri. Ketika peserta didik mampu menjawab tantangan tersebut maka peserta didik akan semakin terpancing dan menyukai pelajaran kimia. Karena peserta didik akhirnya mengerti tujuan daari belajar kimia itu sendiri apa. Dan peran guru disini adalah sebagai fasilitator yang akan tetap mengawasi peserta didik untuk memecahkan masalah. Guru juga berperan dalam memberikan penguatan sedikit materi untuk menghindari terjadinya miskonsepsi.